Kedudukan Ogauta Nias Dalam Sistem Pemidanaan Nasional: Perspektif Legalitas Dan Hak Asasi Manusia
DOI:
https://doi.org/10.59435/jurdikum.v4i1.946Keywords:
Ogauta, Hukum Pidana Adat Nias, Asas Legalitas, Hak Asasi ManusiaAbstract
Pengakuan terhadap hukum yang hidup dalam masyarakat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana nasional membuka ruang baru bagi penempatan sanksi pidana adat Nias, khususnya Ogauta, dalam sistem pemidanaan Indonesia. Masalah penelitian terletak pada ketegangan antara pengakuan kearifan lokal, asas legalitas, dan kewajiban negara melindungi hak asasi manusia. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan kasus, serta menelaah Fondrakö dan Ogauta melalui literatur hukum adat Nias. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ogauta tidak berkedudukan sebagai rezim pemidanaan yang berdiri sendiri, melainkan dapat memperoleh pengakuan secara bersyarat sebagai pemenuhan kewajiban adat apabila memenuhi Pasal 2, Pasal 66, Pasal 96, dan Pasal 597 KUHP, sebagaimana disesuaikan melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026, serta kriteria Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2025. Penelitian ini menawarkan Model Uji Tiga Lapis yang mencakup uji eksistensi adat, uji legalitas nasional, dan uji konstitusionalitas serta hak asasi manusia untuk menentukan apakah suatu bentuk Ogauta dapat diintegrasikan, perlu ditransformasikan, atau tidak dapat diakui dalam sistem pemidanaan nasional.
The recognition of living law in Indonesia's national Criminal Code creates a new legal space for positioning Nias customary criminal sanctions, particularly Ogauta, within the national sentencing system. The central problem is the tension between recognition of local wisdom, the principle of legality, and the state's obligation to protect human rights. This research applies normative legal research using statutory, conceptual, and case approaches, while examining Fondrakö and Ogauta through scholarly literature on Nias customary law. The study finds that Ogauta does not operate as an autonomous criminal punishment regime. It may receive conditional recognition as the fulfillment of customary obligations only when it complies with Articles 2, 66, 96, and 597 of the Criminal Code, as adjusted by Law Number 1 of 2026, and with the criteria stipulated by Government Regulation Number 55 of 2025. The article proposes a Three-Layer Review Model consisting of an existence test, a national legality test, and a constitutional and human rights test to determine whether a particular Ogauta sanction can be integrated, requires normative transformation, or cannot be recognized within the national sentencing system.
Downloads
References
Alyska, D., Hasibuan, A. R. H., & Syahranuddin. (2026). Perlindungan hukum terhadap istri sebagai korban kekerasan dalam rumah tangga berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga serta hak asasi manusia. Judge: Jurnal Hukum, 7(1), 123-135. https://doi.org/10.54209/judge.v7i01.2668
Anwar, R., & Wibowo, E. A. (2026). Integrasi living law dalam hukum pidana nasional: Antara kepastian hukum dan pluralisme hukum adat. Indonesian Journal of Criminal Law and Criminology, 7(2). https://doi.org/10.18196/ijclc.v7i2.31953
Arianti, R. S., Suyanto, & Ayudyanti, I. (2026). Asas legalitas terhadap penerapan living law dalam UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP. Judge: Jurnal Hukum, 6(07), 2083-2092. https://doi.org/10.54209/judge.v6i07.2065
Daulay, P. A., Sidi, R., & Hasibuan, A. R. H. (2025). Criminal responsibility for perpetrators of child assault (Analysis of Decision Number 2784/Pid.B/2021/PN Mdn). Jurnal Hukum Replik, 13(1), 70-80. https://doi.org/10.31000/jhr.v13i1.13908
Deviyanti, D. (2025). Konsep asas legalitas terhadap pengaturan living law dalam pembaharuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana terkait fungsi penuntutan oleh Kejaksaan Republik Indonesia pada sistem peradilan pidana. The Prosecutor Law Review, 3(3). https://doi.org/10.64843/prolev.v3i3.72
Gea, B., Suryamizon, A. L., & Adriaman, M. (2024). Penyelesaian sengketa waris masyarakat Nias berdasarkan hukum adat Nias dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Sakato Law Journal, 2(1).
Halawa, A. K., Sariaharita, N., Gunawan, V. I., Duryadi, M., & Simanjuntak, J. M. (2026). Fondrako dalam perspektif epistemologi budaya dan teologi kontekstual dan implikasinya bagi pembinaan jemaat. Sanctum Domine: Jurnal Teologi, 16(1), 113-134. https://doi.org/10.46495/sdjt.v16i1.407
Harefa, B. (2017). Peradilan adat Nias dan keadilan restoratif. Jurnal Komunikasi Hukum, 3(1), 40-49. https://doi.org/10.23887/jkh.v3i1.9243
Harefa, B. (2019). Penyelesaian perkara pidana anak melalui peradilan adat Nias. Jurnal Komunikasi Hukum, 5(1), 36-53. https://doi.org/10.23887/jkh.v5i1.16750
Hasibuan, A. R. H. (2023). Dasar hukum tindak pidana penelantaran istri berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga. Scenario (Seminar of Social Sciences Engineering and Humaniora), 412-424.
Hidayat, S., Andryani, Y., Rifa'i, I. J., & Muliani, R. Y. (2025). Pergeseran asas legalitas formal ke material dalam KUHP baru dan konsekuensinya terhadap hukum adat. Jurnal Hukum Mimbar Justitia, 11(1). https://doi.org/10.35194/jhmj.v11i1.5160
Khoiruddin, A. R., & Natsir, M. A. R. (2026). Prospek penerapan sanksi adat Ammatoa pasca berlakunya KUHP nasional dalam bingkai teori mirror thesis. Staatsrecht: Jurnal Hukum Kenegaraan dan Politik Islam, 6(1), 97-124.
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. (2026a, 11 Agustus). Menyoal hukum yang hidup dalam masyarakat sebagai dasar pemidanaan dalam KUHP. Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. (2026b, 1 Oktober). Ahli Pemohon sebut living law tak bisa serta-merta jadi dasar pemidanaan. Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.
Purba, J. E. M. (2023). Analisis hukum keabsahan pendaftaran tanah sistematis lengkap (PTSL). Scenario (Seminar of Social Sciences Engineering and Humaniora), 405-411.
Republik Indonesia. (1945). Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Republik Indonesia. (1999). Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.
Republik Indonesia. (2023). Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
Republik Indonesia. (2025). Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2025 tentang Tata Cara dan Kriteria Penetapan Hukum yang Hidup dalam Masyarakat.
Republik Indonesia. (2026). Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana.
Sitepu, S. A. B., Purba, J. E. M., & Tanjung, I. U. (2022). Tinjauan yuridis perlindungan korban perdagangan perempuan pekerja seks. Jurnal Rectum: Tinjauan Yuridis Penanganan Tindak Pidana, 4(2), 488-497. https://doi.org/10.46930/jurnalrectum.v4i2.2051
Tanjung, I. U. (2026). Putusan bersyarat Mahkamah Konstitusi dan risiko pembentukan norma baru dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Case Law: Journal of Law, 7(2). https://doi.org/10.25157/caselaw.v7i2.6145
Tanjung, I. U., & Adriani, E. N. (2023). Politik hukum terhadap penanggulangan kejahatan dunia maya. Judge: Jurnal Hukum, 3(1), 1-8. https://doi.org/10.54209/judge.v3i01.371
Tanjung, I. U., & Arfa, F. A. (2023). Jabaran asas-asas hukum Islam: Kajian teoritis demokrasi Indonesia. Jurnal Ilmiah Al-Hadi, 8(1), 23-33. https://doi.org/10.54248/alhadi.v8i1.4461
Tanjung, I. U., & Arminsyah. (2024). Kritik terhadap implementasi Omnibus Law dalam sistem hukum Indonesia: Analisis dari perspektif hukum tata negara. Juris Sinergi Journal, 1(1), 1-8. https://doi.org/10.70321/jsj.v1i1.11
Tanjung, I. U., & Yamamah, A. (2023). Hukum Islam dan politik: Pengaruhnya terhadap struktur sosial di Indonesia. Jurnal Ilmiah Al-Hadi, 8(2), 44-51. https://doi.org/10.54248/alhadi.v8i2.4620
Tanjung, I. U., Rambe, D. S., Jiliani, C., & Firjatullah, G. S. (2026). The prosecutor's pre-prosecution and prosecution in accordance with the Criminal Procedure Code. ISNU Nine-Star Multidisciplinary Journal, 3(1), 39-44. https://doi.org/10.70826/ins9mj.v3i1.1331
Wijayanto, E., & Makarim, M. H. (2025). Politik hukum living law dan hak asasi manusia terhadap rancangan Perda tindak pidana adat dalam KUHP. Jurnal Legislasi Indonesia, 22(2). https://doi.org/10.54629/jli.v22i2.1354
Downloads
Published
License
Copyright (c) 2026 Hepy Krisman Laia, Indra Utama Tanjung (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.












